Vino G. Bastian, Ubah Mindset Anak Punk Lewat Film

Dulu sewaktu bermain di film Realita Cinta dan Rock n Roll, Vino sempat didemo para rocker yang bilang kalau filmnya kurang rock dan adegan bermusiknya kurang banyak. Vino pun menyanggah dengan bilang kalau rock n roll itu bukan dinilai dari penampilan atau bermain musik tapi di hatinya. Kini ia kembali berperan ekstrem di film terbarunya, Punk in Love yang bercerita tentang perjalanan 4 anak Punk asal Malang untuk menyatakan cinta kepada gadis pujaan yang berada di Jakarta.
 

Meskipun yakin filmnya kali ini juga tidak akan luput dari demo dan kritikan tapi Vino optimis lewat film Punk in Love, persepsi salah yang selama ini dimiliki masyarakat tentang komunitas punk bisa diubah.

“Selama ini, punk itu cuma identik dengan brutal, liar, anti kemapanan. Tapi ternyata kalau kita sudah masuk ke situ, baru terasa kalau mereka juga sama saja kayak kita. Anti kemapanan kan nggak selalu berhubungan dengan uang, mungkin maksudnya tanpa aturan-aturan yang membatasi  pun sebenarnya kita bisa hidup. Hal seperti itulah yang sebenarnya mereka anut tapi kan orang-orang nggak pernah tahu dan ada juga simpatisan punk yang cuma tahu kulit-kulit luarnya saja tapi nggak tahu prinsip punk seperti apa.” 

Banyak yang menanyakan kenapa film ini harus mengambil setting lokasi di Malang? Padahal kita dengan mudah bisa menemukan komunitas anak punk hampir disetiap kota di Indonesia.
Karena kejadian aslinya memang di Malang, kan based on true event, jadi ada 4 anak punk Malang datang ke Jakarta untuk menyatakan cintanya. Lucu juga sih, karena biasanya Punk sangat jauh banget dengan cinta tapi nggak mungkin dong setiap orang walau sekeras apapun nggak punya cinta, itu nggak mungkin.”  Ujar cowok yang berteman dekat dengan almarhum Yogi, anak punk sekaligus kru film yang menjadi sumber inspirasi dalam film ini. 

Semua adegan dalam  film ini menurut Vino cukup menderita untuk dilakoni, misalnya saja saat syuting, Vino dan kawan-kawan bahkan terpaksa beristirahat seadanya di stasiun kereta ataupun pelabuhan, benar-benar seperti anak punk sungguhan. Menurut Vino, ada satu hal lagi yang cukup unik dari film ini, meskipun diberi label komedi, Ody .C. Harahap, sang sutradara, tidak mengharuskan Vino dan ketiga kawannya berakting melucu.
“Ochoy sutradaranya nggak ingin para pemainnya melucu, lebih ke situasi sih jadi bukan karakternya yang harus melucu. Padahal sebenarnya banyak adegan lucunya, misalnya saat si Yoji (Andhika Pratama) harus pup di bus atau saat tiba-tiba kita harus ketemu banjir tapi memang harus ditonton sih karena kalau diceritakan nggak akan selucu itu”, jawabnya cerdik. (Ind)
 

Di film Punk in Love kamu diharuskan berbahasa Jawa, adakah latihan khusus untuk itu?
“Belajarnya satu setengah bulan dan kebetulan Andika Pratama kan memang orang asli Malang,.”

Siapa dari kalian berempat yang paling nge-punk atau berjiwa punk?
“Aulia Sarah. Dia tahu punk, dia tahu filosofi punk. Sementara yang tiga cuma tahu punk sebatas fashionnya saja atau punk sebatas musiknya saja, ataupun punk sebatas politicalnya saja. Memang banyak orang mengaku punk tapi dia nggak tahu apa itu punk. Jadi sebenarnya realita seperti itu yang mau diangkat film ini. Jadi nggak semua anak punk itu punya jiwa punk”.

Katanya Film Punk in Love kan berdasarkan true event, Apa kamu sempat berkenalan dengan pelaku sebenarnya?
“Iya dia malah temen aku, namanya Yogi almarhum. Dia tuh kru film juga, dan nanti karakter si Yogi ini akan dimainkan Andhika Pratama.”

Ada nggak sih kebiasaan dalam syuting film ini yang terbawa sampai setelah syuting berakhir?
“Sebenarnya kebawa sih nggak tapi ada temenku yang komen, kok kamu logatnya jadi medok? Mungkin karena hampir satu setengah bulan berbahasa Jawa jadi nggak sadar masih suka terbawa sampai ada orang lain yang bilangin.”

Apa kelebihan film ini jika dibandingkan dengan film remaja sejenis?
“Pertama ini road movie, genre film ini di Indonesia masih jarang. Udah beberapa film aku nggak pernah main komedi, bisa dibilang ini pertama kalinya aku bermain di komedi. Kedua, realita tentang anak punk juga belum pernah dibahas di Indonesia dan yang terpenting ini based on true event.”

Sebagai penyuka genre film drama, bagaimana cara mendapatkan chemistry dengan lawan main di genre film tersebut?
Memang harus melepaskan ego, karena kita nggak tahu mau dipasangin sama siapa dan kita juga nggak bisa milih mau dipasangin sama siapa. Apapun yang kita dapat ya kita harus ngeblend makanya harus dari kitanya dulu yang aktif.”

Bagaimana pendapat kamu tentang perfilman Indonesia yang katanya sedang bangkit ini?
Semua film Indonesia harus ditonton dan akan makin banyak film-film yang berkualitas. Contohnya, Laskar Pelangi dan Pintu terlarang, menurut aku itu 2 film yang dikerjakan secara serius. Kadang-kadang aku bingung kalau ada yang nggak suka melihat film Indonesia yang nggak Indonesia banget. Loh kenapa? Emang yang bikin film orang Arab harus Arab banget? Kenapa kita harus menerima semua film harus Indonesia banget, karya itu kan universal, musik juga gitu. Kalau nggak Indonesia banget, so what? Kan malah jadi ajang buat kita berapresiasi.”