Putut Widjanarko : Selalu Dari Novel Ke Film

Mizan Production kembali memproduksi sebuah film. Tapi kali ini dengan genre yang berbeda dari film sebelumnya Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku, Emak Ingin Naik Haji dan Sang Pemimpi. Di film perdananya pada tahun ini Mizan mencoba beralih ke genre komedi yang lebih tepatnya komedi romantis dengan judul Komidi Putar. Selain membicarakan film yang akan dibesut oleh Benni Setiawan ini, Putut Widjanarko selaku Produser Mizan Production saat ditemui dalam acara 'Road to Komidi Putar' di MP Points Jakarta turut membicarakan film-film yang dihasilkan oleh rumah produksi tersebut. Simak saja hasilnya dibawah ini.

Judulnya cukup unik...
“Ya, sebenarnya dari judulnya Komidi Putar bukan Komedi Putar, film komedi romantis, yang menggambarkan kisah cinta Rosid yang diperankan oleh Reza Rahardian layaknya komidi putar yang selalu bergerak naik dan turun ada senang dan ada sedih.”

Bagaimana ceritanya film ini?
“Film ini diadaptasi dari novel dwilogi karya Ben Sohib, The Da Peci Code dan Rosid & Delia. Di Da Peci Code menceritakan Rosid yang dipaksa memakai peci karena tradisi agama, tapi Rosid tidak mau karena itu bukan ajaran agama. Di Rosid & Delia ceritanya lebih kompleks lagi karena Rosid punya pacar yang beragama katolik. Kita melihatnya ini adalah cerita yang menarik karena mengangkat sebuah etnis yang jarang terungkap yaitu Arab.”

Apakah segmennya sama dengan film-film sebelumnya?
“Segmen dan genre dari film ini berbeda dari sebelumnya, yaitu komedi romantis dan segmennya untuk remaja.”

Apa salah satu hal yang menarik?
“Yang menarik nanti Reza akan membacakan puisi-puisi karangan W.S. Rendra. Kita memberikan sentuhan W.S. Rendra agar penonton bisa kenal dengan sosok Rendra tersebut. Mudah-mudahan ini menjadi kontribusi dari dunia perfilman untuk dunia puisi agar jasanya tidak dilupakan.”

Kenapa selalu mengadaptasi dari sebuah novel?
“Ini adalah sebuah refleksi naluri kami yang sudah 25 tahun lebih bergerak dibidang penerbitan buku.”
 
Tidak terpikir untuk membuat film dari ide yang baru?
“Kalaupun membuat film dari ide baru, kita akan membuat bukunya. Contohnya Garuda Di Dadaku yang bekerjasama dengan SBO. Kita terlibatnya belakangan tidak dari awal, makanya kita terpikir membuat buku yang berdasarkan film tersebut. Namun kita berpikir jika kita membuat buku berdasarkan dari film, justru nanti ceritanya akan sama seperti filmnya. Untuk itu kita membuat prekuel dari cerita tersebut. Kita menceritakan tentang apa yang terjadi sebelum di filmnya, pertemuan antara Bayu dan sahabatnya Heri. Lalu kita terbitkan sebulan sebelum filmnya rilis, kita edarkan ke sekolah-sekolah, dan hasilnya banyak juga yang tahu filmnya dari buku yang sudah diedarkan.”

Lebih menguntungkan film atau buku?
“Ini wilayah yang berbeda. Tergantung filmnya laku atau tidak, sebagai perbandingan Mizan Grup memproduksi  60 judul  per bulannya, kalau film paling banyak tiga film dalam setahun.”

Kriteria novel yang difilmkan?
“Pada dasarnya novelnya memang harus bisa difilmkan, temanya menarik, memberikan nilai-nilai yang baik.”

Rencana film tahun ini?
“Insya allah tahun ini tiga film, Komidi Putar, bulan Ramadhan dan Idul Fitri judulnya Rindu Purnama yang menceritakan betapa kita harus menyayangi anak yatim, di bulan Desember akan membuat film yang mengisahkan perjuangan anak-anak dari penjuru Indonesia dalam olimpiade fisika.”

Prinsip apakah yang dipegang oleh Mizan Production untuk membuat film?
“Prinsipnya menghadirkan film-film yang membawa nilai yang baik, misalkan setelah menonton para penonton akan berfikir pendidikan itu penting atau kita harus memperhatikan tetangga kita, pokoknya kita akan menghadirkan suatu yang positif.” (eM.Yu)