Viki Sianipar : Butuh Minimal 1 Bulan

Sebagai musisi muda dan berbakat nama Viki Sianipar bukanlah nama yang asing untuk dunia hiburan. Viki Sianipar, merupakan pria yang menghasilkan karyanya dengan musik yang mengandung unsur etnik Indonesia. Sampai saat ini sudah 5 buah album yang telah ia hasilkan. Sekarang pria berdarah campuran Batak dan Sunda itu sedang menyelesaikan albumnya yang ke enam. Namun disela-sela kesibukannya tersebut Viki mencoba jalur film. Lewat film besutan Sujiwo Tejo, Viki didaulat untuk mengisi scoring musik film yang berjudul Bahwa Cinta Itu Ada. Dan inilah hasil bincang-bincang kami dengan pria Jakarta, 6 Juli 1976 ini.

Bagaimana persiapan untuk mengisi scoring music di Bahwa Cinta Itu Ada?
“Banyak persiapan yang dilakukan, apalagi saya diikutsertakan sejak pre-production. Dari awal diminta konsepnya seperti apa, lalu saya kasih beberapa sample lagu. Setelah penggarapan gambarnya kita sesuaikan kembali dengan lagu.”

Musik yang seperti apa yang Anda berikan difilm ini?
“Karena film ini menurut aku cerita “dalangan” dalam bentuk film, aku menginterpretasikan sebagai musik dongeng, musiknya kekanak-kanakan seperti film-film Disney. Saya menggambarkan flashback yang terjadi pada saat  mereka muda, dengan segala kenakalan remaja dan kisah cintanya, sampai akhirnya dewasa.”

Berapa lama untuk prosesnya?
“Kalo Post-Pro musik sebulan, tapi ada yang sudah aku cicil untuk kebutuhan syuting, karena ada scene yang harus mengikuti musik. Seperti pas scene performance di kampus atau cafe. Untuk keseluruhan prosesnya sekitar satu setengah bulan.”

Memang Anda butuh berapa lama untuk membuat scoring musik?
“Minimal 1 bulan, biasanya saya minta 2 bulan, kalo film ini saya minta 1,5 bulan, disetujui 1 bulan, tapi akhirnya jadinya 1,5 bulan juga, hehehehe. Saya semuanya saya lakukan supaya hasilnya bagus.”

Berapa orang yang membantu Anda dalam mengerjakan scoring musik ini?
“Untuk musik sendiri, lebih dibantu untuk administrasi satu orang, dan sound engineering 3 orang."

Bagaimana dengan instrumen yang mendukung?
“Saya membuatnya dengan digital, tapi teknologi sekarang sudah semakin canggih, jadi  beda tipis dengan full orchestra. Tapi tetpa ada perbedaan, seperti dari segi feel yang bermain. Bagaimanapun main dengan full orchestra lebih memiliki nyawa, beda dengan digital. Ada beberapa artikulasi juga yang tidak bisa dimainkan dengan digital, yang mengharuskan dengan mood orang. Meskipun sekilas orang awam nggak bisa bedain.”

Jadi ini film Anda yang keberapa?
“Ini film pertama, sebenernya dulu pernah di film independen. Sebenarnya banyak juga tawaran  yang datang tapi sayang film horor, karena saya penakut, jadi saya nggak mungkin bikin musik supaya orang takut sedangkan saya penakut. Ada beberapa juga yang nawarin dengan tema selain horor tapi ngasih jangka waktunya hanya 1 minggu, saya nggak mau. Karena hasilnya nanti pasti nggak maksimal.”

Kenapa Anda mau terlibat dalam sebuah film?
“Sebenarnya film bukan main job saya meskipun cukup menghasilkan, tapi yang saya suka idealisme bisa masuk disini.”

Apa kriteria untuk terlibat dalam sebuah film?
“Cerita yang bagus, pesan moral yang jelas, yang pasti bukan horor.”

Film impian Anda?
“Science fiksi atau musikal dengan setting tahun dahulu, jadi nggak sekedar komedi atau horor semata, tapi sayang cost-nya mahal.” (eM.Yu)